Prosesi Sungkeman: Ungkapan Bakti dan Penghormatan dalam Pernikahan Jawa
Dening :
Septianur RamadhanSalah satu prosesi yang paling menyentuh hati dan penuh makna dalam pernikahan adat ini adalah sungkeman. Sungkeman adalah ritual penghormatan kepada orang tua dan sesepuh, di mana kedua mempelai bersimpuh dan mencium tangan mereka sebagai ungkapan rasa terima kasih dan permohonan doa restu. 1. Asal-Usul dan Sejarah Sungkeman. Sungkeman merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya Jawa. Istilah “sungkem” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menyembah” atau “memberi hormat”. Dalam konteks pernikahan adat Jogja, sungkeman adalah ritual penghormatan yang dilakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua dan sesepuh keluarga. Asal-usul sungkeman dapat ditelusuri kembali ke zaman kerajaan Mataram Kuno. Pada masa itu, sungkeman dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada raja dan para bangsawan. Sungkeman juga dianggap sebagai cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua dan berkedudukan lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, tradisi sungkeman menyebar ke masyarakat umum dan menjadi bagian dari berbagai upacara adat, termasuk pernikahan. Sungkeman kemudian dimaknai sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. 2. Makna Filosofis Sungkeman Sungkeman memiliki makna filosofis yang mendalam dalam pernikahan adat Jogja. Berikut adalah beberapa makna yang terkandung di dalamnya: • Ungkapan Rasa Hormat dan Terima Kasih: Sungkeman merupakan wujud penghormatan kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik kedua mempelai. Melalui sungkeman, kedua mempelai menunjukkan rasa terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan oleh orang tua mereka. • Permohonan Doa Restu: Sungkeman juga menjadi momen bagi kedua mempelai untuk memohon doa restu kepada orang tua dan sesepuh keluarga. Doa restu ini dianggap sangat penting dalam pernikahan adat Jawa, karena diyakini dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi pasangan pengantin. • Simbol Kerendahan Hati: Sungkeman mengajarkan nilai-nilai kerendahan hati dan kesederhanaan. Dengan bersimpuh dan mencium tangan orang tua, kedua mempelai menunjukkan bahwa mereka tidak sombong dan selalu menghormati orang yang lebih tua. • Mempererat Ikatan Keluarga: Sungkeman juga menjadi momen untuk mempererat ikatan keluarga. Melalui sungkeman, kedua mempelai menunjukkan bahwa mereka akan selalu menghormati dan menyayangi orang tua serta keluarga mereka. 3. Tata Cara Pelaksanaan Sungkeman Prosesi sungkeman dalam pernikahan adat Jogja biasanya dilakukan setelah panggih dan dulangan. Acara ini dihadiri oleh keluarga dekat dan kerabat dari kedua belah pihak. Berikut adalah tata cara pelaksanaan sungkeman: • Persiapan: Kedua mempelai akan duduk bersimpuh di hadapan orang tua dan sesepuh keluarga. Pengantin pria biasanya duduk di sebelah kanan pengantin wanita. • Sungkem kepada Orang Tua: Kedua mempelai akan mencium tangan orang tua mereka secara bergantian, dimulai dari ibu kemudian ayah. Setelah itu, mereka akan mengucapkan terima kasih dan memohon doa restu. • Sungkem kepada Sesepuh: Setelah sungkem kepada orang tua, kedua mempelai akan melakukan sungkem kepada sesepuh keluarga lainnya, seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan kakak. • Doa Bersama: Setelah sungkeman selesai, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang sesepuh atau tokoh agama. Doa ini bertujuan untuk memohon berkah dan kelancaran dalam kehidupan rumah tangga kedua mempelai.

Komentar
Posting Komentar